Selasa, 04 Februari 2020

Review Film Midsommar (2019), Festival Horor Tengah Hari


Setelah sebelumnya me-review film Togo (2019), kali ini kami akan mengulas film Hollywood terbaru tahun 2019 yang cukup bagus yaitu Midsommar. Film ini digarap oleh sutradara Ari Raster, yang sebelumnya menyutradarai film Hereditary.

Review Film Midsommar (2019), Festival Horor Tengah Hari

Review Midsommar (2019)


Nah, seperti apakah kira-kira kualitas film Midsommar? Simak deh selengkapnya setelah tanda titik dua berikut ini:

Jangan lupa juga membaca Top 10 Cameo Stan Lee yang bukan di film Marvel.


Sinopsis Film Midsommar (2019)


Tanggal rilis: 7 September 2019 (Indonesia)
Sutradara: Ari Aster
Anggaran: $8–10 juta
Box office: 42,3 juta USD
Produser: Lars Knudsen, Patrik Andersson

Sinopsis:

Saat hubungan keduanya tengah bermasalah, sepasang kekasih muda dari Amerika Serikat melancong ke sebuah festival tengah musim panas Swedia, di mana tempat yang tampak seperti surga permai berubah menjadi mimpi buruk yang mengerikan, seiring warga setempat mulai menunjukkan niat bengis mereka.


Review Film Midsommar (2019)


CERITA

Film 'Midsommar' adalah karya Ari Aster yang mencekam dan berbeda dengan gaya horor lainnya. Langsung disajikan emosi Dani dari awal film, membuat penonton bisa bersimpati lebih dalam.

Namun, emosi ini tidak bisa bertahan lama karena porsi drama yang sebenarnya mengurangi kualitas film, padahal dirancang cukup baik.


Ulasan Sinopsis Film Midsommar (2019)
Review Midsommar Bahasa Indonesia

Dikarenakan akting pemerannya yang cukup down di awal, membuat adegan drama semakin cringe apalagi di saat Jack Reynor harus bermain adegan. Ketika sampai di Halsingland, semuanya yang sebelumnya indah menjadi mengerikan.

Setiap adegan dibuat bermakna dengan cerita sekte ini yang sungguh sangat berbeda dengan sekte lainnya. Penajaman konflik di pertengahan babak cukup tumpul, mengingat rasanya film ini menghadirkan horor yang terang dan cukup monoton.


Untungnya, babak ketiga yang kalem ini semakin menggila secara perlahan-lahan dan memuncak hingga ending-nya. Ari Aster berhasil kembali menyajikan film yang tak segelap 'Hereditary', tetapi bisa membuat penonton "meninggal" dalam waktu 128 menit ini.

Meskipun ceritanya tidak stabil, pembawaan Ari Aster dalam Midsommar ini lebih luwes dan terkesan menyenangkan, tetapi menghantui hati dan pikiran penonton sepanjang film.


AKTING DAN PERFORMA

Semua aktor dalam film ini sangat totalitas dalam film ini. Meskipun dalam pertengahan babak, karakternya semakin kebingungan dan lemah. Florence Pugh berhasil menjadi Dani yang emosional dan histeria dalam setiap adegan.

Review Midsommar bahasa indonesia film terbaru
Review dan Sinopsis film Midsommar

Setiap ekspresi dan gerak tubuhnya berhasil membuat penonton bersimpati dengan keadaan hidupnya. Jack Reynor mencuri perhatian penonton lewat paras tampannya, meskipun karakternya dibuat pasif dan bodoh.


Karakter sahabat Christian lainnya seperti Pelle (Vilhelm Blomgren), Josh (William Jackson Harper), dan Mark (Will Poulter) menjadi karakter yang mudah diikuti, pengundang konflik, dan sebenarnya menyebalkan, meskipun aktingnya cukup dirasa baik.

Penduduk Harga ini pun cukup menambah unsur creepy dari film ini. Dari Siv, Stev, Maja, Ulf, sampai Ruben menghiasi Harga menjadi lebih mencekam dan menakutkan. Review film Midsommar selanjutnya akan membahas teknis pendukung dalam film.


TEKNIS PENDUKUNG

Tak seperti film-film horor lainnya, 'Midsommar' memiliki performa yang berbeda, yaitu berada di Swedia yang mayoritas siang hari lebih banyak daripada malam hari. Meskipun begitu, Ari Aster tetap bisa menyajikan sebuah sinematik yang menegangkan dan mencekam.

Sinematografinya yang dinamis dan sangat ciamik cukup bisa memanjakan mata, namun apabila sudah mencapai adegan sadis, penonton bisa merasakan kengiluan dalam adegan itu. Hal yang paling totalitas adalah tata artistik dan busana yang mewarnai mata dengan warna cerah, namun bermakna menyeramkan di balik itu semua.

Melihatnya sangat menyenangkan, namun keindahan itu dirusak oleh ceritanya yang benar-benar horor. Hal yang paling spesial adalah tata suara yang sama menakutkan dan gilanya seperti 'Hereditary'.

Memakai suara asli tanpa digital rasanya lebih membuat penonton merinding. .


Review Midsommar - ENGLISH REVIEW


SYNOPSIS

With their relationship in trouble, a young American couple travel to a fabled Swedish midsummer festival where a seemingly pastoral paradise transforms into a sinister, dread-soaked nightmare as the locals reveal their terrifying agenda.


STORY

'Midsommar' is Ari Aster's gripping and different horror style. Dani immediately presented emotions from the beginning of the film, allowing the audience to sympathize more deeply.

However, this emotion cannot last long because the portion of the drama actually reduces the quality of the film, even though it is designed quite well.

Due to the fairly down-acting acting in the beginning, making the drama scene even more cringe especially when Jack Reynor had to play the scene.

Review film horor Midsommar bahasa indonesia film terbaru
Review Film Midsommar Bahasa Indonesia

When they arrived at Halsingland, everything that had been beautiful was terrible. Each scene is made meaningful by the story of this sect which is really very different from other sects.

The sharpening of conflict in the middle of the act was quite blunt, considering that it felt like this film presented a bright and quite monotonous horror.

Fortunately, this calm third round gradually grew madder and peaked until its ending. Ari Aster succeeded in presenting the film that is not as dark as 'Hereditary', but can make the audience "die" within 128 minutes. Although the story is unstable, Ari Aster brought Midsommar is more flexible and pleasing, but it haunts the hearts and minds of the audience throughout the film.


ACTING AND PERFORMANCE

All actors in this film are very total in this film. Although in the middle of the act, his character is getting confused and weak. Florence Pugh managed to become an emotional and hysterical Dani in each scene.

Every expression and gesture of her body succeeded in making the audience sympathize with the state of his life. Jack Reynor stole the audience's attention through his good looks, even though his character was made passive and stupid.


Christian's best friend characters such as Pelle (Vilhelm Blomgren), Josh (William Jackson Harper), and Mark (Will Poulter) are easy-to-follow characters, conflict invitees, and actually annoying, even though his acting is quite good.

The resident of Harga is enough to add to the creepy element of this film. From Siv, Stev, Maja, Ulf, until Ruben decorates Harga becomes even more gripping and frightening.


SUPPORTING TECHNICAL

Unlike other horror films, 'Midsommar' has a different performance, which is in Sweden which has a majority of daytime more than nighttime. Even so, Ari Aster can still present a tense and gripping cinematic.

Its dynamic and very good cinematography that can spoil the eyes, but when it reaches a sadistic scene, the audience can feel the silence in the scene.

The thing that is the most totality is the artistic layout and fashion that colors the eyes with bright colors, but it means creepy behind it all.

Seeing it is very pleasant, but the beauty was marred by a truly horror story.

The most special thing is the sound system that is as scary and crazy as 'Hereditary'. Using the original sound without digital version feels more to make the audience shiver.


Demikian sinopsis dan review film Midsommar (2019) dalam bahasa Indonesia. Kamu sudah nonton film Midsommar? Bagikan review dan rating kamu di komen bawah yaa!

Previous Post
Next Post

1 komentar:

Anonim mengatakan...

Review Film Midsommar

REVIEW

Salah satu film yang gw tunggu2, finally keluar, mungkin udah ada di streaming2 kesayangan kita, tapi gw tetep nunggu di bioskop! Ari Aster gk pernah mengecewakan gw dari Hereditary, sekarang Midsommar, bener2 out of the box.

Kita selalu tertanam di pikiran kita, sebush film horror itu pasti monster, jumpscare, selalu terjadi di malam hari, dan membuat kita trauma untuk tidur di malam hari. Namun midsommar ini sangat berbeda, ini merupakan Sebuah film horror yang mencekam meskipun di siang bolong dengan langit yang cerah. Malah dengan kondisi tersebut lebih membuat film ini sangat mengerikan.

Ari Aster seperti menyerang zona nyaman kita yang berpikir, dengan langit terang tidak ada ke horroran.

Ari Aster pun menambahkan scoring, voice dan background music yang sangat mengganggu dan bisa membuat akal sehat kita terganggu. Dari segi cerita ya memang tidak sekomplek hereditary, meskipun terlihat seperti ada benang merah antara hereditary dan Midsommar (ini bakal gw discuss di podcast).

Cinematography dan visulanya pun disulap oleh Ari Aster, dengan memainkan kamera terbalik, membuat diri kita merasa terganggu.

Gw mengambil point of view dari film Midsommar yang telah disensor 9 menit. Actually dalam segi cerita memang tidak mengurangi inti film ini, namun sayangnya 9 menit tersebut mengurangi art dari film yang sangat artistik ini. Tapi thanks banget buat @featpictures udah bawa film Midsommar ke Indonesia.